JOAN JOAN GERALD

Kamis, 14 Januari 2010

Berbahasa batak yang Indonesia dan Benar


Ada cerita teman kos saya dulu ketika seorang rekan kerjanya (sebut saja namanya Joko) ditugaskan oleh Pimpinan untuk menghadiri rapat penting dengan sekelompok pemodal asing di Kota Medan, teman saya yang lain (sebut saja namanya Ucok) yang kebetulan berasal dari kota itu menitipkan sebuah paket oleh-oleh untuk diserahkan pada orang tuanya disana. Ini adalah perjalanan pertama Joko ke kota Medan. Setiba di Medan Joko segera mengantarkan paket tersebut karena khawatir kelupaan apabila menunda keesokan harinya. Sekedar berbasa-basi Joko singgah sebentar untuk sekedar ngobrol dengan orangtua si Ucok ini.

Kelucuan terjadi ketika si orang tua menanyakan status Joko apakah sudah menikah atau belum. Saat itu Joko dengan enteng menjawab,”Saya bujang, om”. Sontak orangtuanya si Ucok terdiam dan beberapa saat memandang dengan tajam si Joko ini. Merasa tidak enak hati, Joko lalu bertanya apakah ada yang salah dengan jawabannya tersebut. Orangtua si Ucok pun dengan rasa tidak nyaman memberitahu bahwa kata bujang dalam bahasa Batak dapat berarti “kemaluan”. Kemudian Joko-pun buru-buru minta maaf dan menjelaskan bahwa dia tidak mengetahui perihal tersebut. Mendengar itu suasanapun menjadi cair dan bapak si Ucok-pun segera maklum mengingat tamunya tersebut adalah orang Jawa, wajar bila dia memberi jawaban yang mengagetkan jantungnya itu..

Memang, beberapa kata dalam bahasa Indonesia terdengar menjadi sesuatu berbeda, bahkan aneh, apabila didengar dengan telinga orang Batak. Ambil saja contoh kata “dia” (kata ganti orang ketiga tunggal) yang dalam bahasa Batak berarti “mana”, kata lereng (tempat di kaki gunung) yang berarti sepeda; kata tua (berusia lebih lama) yang berarti “berkat/bijak; kata buat (bagi/untuk/kepada) yang berarti “ambil” atau bolong (kosong/tembus) yang berarti “terbuang”.

Kata-kata berbeda frasa tersebut akan lebih menarik bila dibuat dalam satu kalimat, contoh “rintik air hujan” (Rintik dalam bahasa Batak berarti “gila”). Di Tanah Batak anda jangan sekali-kali mencari yang namanya tukang urut, selain anda tidak akan menemukannya, anda juga akan dipelototi orang lain. Bila anda ingin mencari tukang urut, carilah dengan menyebut tukang pijat atau dalam bahasa daerahnya disebut pandappol. Mengapa demikian? Karena dalam bahasa Batak umum kata urut berarti pantat; maka bayangkan saja apa yang akan terjadi bila ada orang luar daerah tersebut yang mahir memijat lantas mempromosikan dirinya disana sebagai seorang “tukang urut”.
Ada satu kata yang beberapa tahun lalu sangat populer di masyarakat karena merupakan branded khas suatu merek minuman kesehatan, yaitu kata “biang” yang dalam bahasa Indonesia berarti induk/ahli/jagoan Saya teringat pada masa itu perusahaan minuman tersebut pernah mengadakan pemilihan “generasi biang” untuk orang muda yang terbaik di bidangnya. Pada saat pengumuman pemilihan tersebut, saya bisa pastikan banyak sekali orang Batak yang geli sekaligus seram membacanya karena dalam bahasa Batak kata “biang” berarti “anjing”. Maka ketika di stasiun televisi diumumkan siapa-siapa saja yang menjadi generasi biang tersebut, keluarga saya di rumah tertawa terbahak-bahak menyaksikannya karena anda tahu sendiri apa yang tersirat di benak kami pada saat itu. Kelucuan makin menjadi-jadi ketika ternyata ada seorang selebritis yang juga orang Batak yang mendapat gelar “generasi biang” tersebut.

Kalau kita lihat di Jakarta ada perusahaan angkutan dengan nama “bianglala” (pelangi), maka kata ini menjadi lebih lucu, karena kata lala merupakan bahasa pendek dari kata ilala yang berarti “rasa”. Jadi silahkan saja anda konotasikan sendiri makna kedua kata tersebut (biang dan lala) kalau digabung.

Bila anda pergi berjalan-jalan ke pasar tradisional di daerah Toba, anda akan sering mendengar kata gadis (wanita yang belum menikah) dan kata tiga-tiga (angka 3 dan 3) karena kata gadis artinya “jual” dan tiga-tiga berarti “barang dagangan”. Juga jangan heran bila suatu saat mendengar seorang bapak mengaku punya anak 3 padahal anaknya ada 5, karena dalam bahasa Batak kata anak hanya digunakan untuk menyebutkan “anak laki-laki”, sedangkan anak perempuan disebut “boru” dan bukan anak.

Namun jangan dikira hanya Bahasa Indonesia saja yang memiliki arti unik dalam bahasa Batak, sebaliknyapun demikian. Anda tidak akan pernah ditegur meskipun berulang-ulang kali menyebut kata beha di depan orangtua, karena disana kata beha berarti “bagaimana” (beha/bea/boha).
Dalam bahasa Batak sub Mandailing, kata mamak (ibu) justru mempunyai pengertian “paman” atau kata ulang (melakukan lagi) yang berarti “jangan”.

Kembali kepada si Joko tadi, akhirnya selama seminggu berada disana dia membawa staf kantor wilayah mereka disana untuk memandunya, karena khawatir kejadian bujang itu akan terulang kembali.

1 komentar:

  1. Good argument and article, surely he is the truely Batak man, but I was wondering if he is not a Batak, but knowing deeply about Batak,
    I am not brave to say if he is a bachelor or bujang , but I hope so, so he can easily find the girls with using beha, but not asking to him "beha do roham to ahu", could be he is,
    bravo to his article, a nice one, and hopefully many smart young Batak men write the other topics with different angle...

    BalasHapus